Bedah PSAK 113 (Bagian 2): Teknik Valuasi, Hierarki Input (Level 1–3), dan Tantangan Praktis Pengukuran
- Alifa Azzahra

- 12 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Bedah PSAK 113: Teknik Valuasi & Hierarki Fair Value

Pendahuluan
Setelah memahami konsep dasar fair value PSAK 113, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara menentukan nilainya secara konkret?
Dalam praktik, pengukuran fair value jarang sesederhana mengambil harga pasar. Banyak entitas menghadapi kondisi seperti keterbatasan data pasar, aset yang unik, hingga ketergantungan pada model dan asumsi.
Akibatnya, hasil valuasi bisa sangat bervariasi meskipun objeknya serupa.
Melalui PSAK 113, entitas diberikan kerangka yang jelas berupa:
Teknik valuasi yang diperkenankan
Hierarki fair value (Level 1, 2, dan 3)
Prinsip pemilihan metode yang tepat
Artikel ini membahas teknik valuasi, hierarki fair value, serta tantangan praktis dalam pengukurannya.
Teknik Valuasi dalam PSAK 113
Dalam fair value PSAK 113, terdapat tiga pendekatan utama yang digunakan:
1. Market Approach
Menggunakan harga dari transaksi pasar untuk aset atau liabilitas yang sebanding.
Kelebihan:
Paling objektif
Berbasis data nyata
Kekurangan:
Sulit digunakan jika tidak ada pasar aktif
2. Cost Approach
Mengukur berdasarkan biaya pengganti (replacement cost).
Umumnya digunakan untuk:
Aset tetap
Aset khusus
Keterbatasan:
Tidak selalu mencerminkan nilai ekonomi masa depan
3. Income Approach
Menggunakan nilai kini dari arus kas masa depan (DCF).
Kelebihan:
Relevan untuk aset produktif
Risiko:
Sangat bergantung pada asumsi (diskonto, growth, risiko)
Dalam praktik, entitas sering menggunakan lebih dari satu pendekatan untuk validasi silang (cross-check).
Hierarki Fair Value PSAK 113 (Level 1, 2, 3)
PSAK 113 memperkenalkan hierarki fair value untuk menunjukkan tingkat keandalan input.
Level 1: Paling Andal
Harga kuotasian di pasar aktif
Contoh: saham di bursa
➡️ Minim judgement
Level 2: Input Terobservasi
Harga aset serupa
Suku bunga pasar
➡️ Butuh penyesuaian
Level 3: Input Tidak Terobservasi
Berdasarkan asumsi internal
Contoh: valuasi startup
➡️ Tingkat judgement tertinggi
Risiko Level 3 dalam Fair Value PSAK 113
Level 3 adalah area paling kompleks dalam fair value PSAK 113 karena:
Tidak ada data pasar langsung
Sangat bergantung pada asumsi
Sensitif terhadap perubahan kecil
Risiko utama:
Overvaluation
Bias manajemen
Salah saji material
Karena itu, auditor biasanya akan:
Menguji asumsi
Membandingkan dengan data eksternal
Melakukan analisis sensitivitas
Penyesuaian dalam Valuasi Fair Value
Dalam praktik, valuasi sering memerlukan penyesuaian, seperti:
Liquidity discount → karena aset sulit dijual
Control premium → karena ada kendali
Credit risk → untuk liabilitas
Namun, semua penyesuaian harus:
Konsisten
Berbasis data
Dapat diaudit
Konsistensi Model dalam PSAK 113
PSAK 113 menekankan pentingnya konsistensi dalam fair value PSAK 113, termasuk:
Penggunaan metode yang sama untuk kasus serupa
Kalibrasi model dengan data pasar
Back-testing hasil estimasi
Perubahan model harus:
Memiliki dasar kuat
Didokumentasikan dengan jelas
Ilustrasi Praktik Fair Value PSAK 113
Misalnya, perusahaan memiliki investasi pada startup.
Karena tidak ada pasar aktif:
Digunakan metode DCF (income approach)
Input bersifat tidak terobservasi
Diklasifikasikan sebagai Level 3
Risiko:
Asumsi terlalu optimistis
Nilai tidak realistis
Solusi:
Gunakan data pembanding
Lakukan sensitivity analysis
Ungkapkan secara transparan
Penutup
Penerapan fair value PSAK 113 bukan hanya soal memilih metode valuasi, tetapi juga memastikan seluruh proses:
Menggunakan input yang relevan
Berdasarkan asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan
Konsisten dengan kondisi pasar
Tanpa disiplin:
Risiko salah saji meningkat
Audit menjadi kompleks
Sebaliknya, penerapan yang tepat akan menghasilkan laporan keuangan yang:
Lebih transparan
Lebih andal
Lebih dipercaya






Komentar