Bedah PSAK 113: Konsep Fair Value & Market-Based Measurement
- Alifa Azzahra

- 18 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Pendahuluan
Dalam pelaporan keuangan modern, penggunaan fair value PSAK 113Ā semakin luas dan menjadi elemen penting dalam penyajian posisi keuangan yang relevan. Berbagai standar akuntansi mengandalkan pengukuran berbasis fair value, mulai dari instrumen keuangan hingga properti investasi.
Namun, dalam praktiknya, masih banyak entitas yang keliru memahami konsep fair value. Ada yang menyamakannya dengan harga perolehan atau nilai buku, menggunakan asumsi internal tanpa referensi pasar, atau belum memahami konsep market participantĀ secara tepat.
Akibatnya, nilai dalam laporan keuangan berisiko tidak mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Artikel ini membahas konsep dasar fair value PSAK 113, termasuk market-based measurementĀ dan area kesalahan umum dalam praktik.
Pengertian Fair Value PSAK 113
PSAK 113 mendefinisikan fair value sebagai harga yang akan diterima untuk menjual aset atau dibayar untuk mengalihkan liabilitas dalam transaksi normal antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.
Beberapa poin penting:
Fair value menggunakan konsep exit price, bukan entry price
Berbasis kondisi pasar saat ini, bukan nilai historis
Tidak menggunakan asumsi internal yang subjektif
Dengan demikian, fair value harus mencerminkan perspektif pasar, bukan preferensi manajemen.
Market-Based Measurement dalam PSAK 113
Salah satu prinsip utama dalam PSAK 113 adalah penggunaan market-based measurement, yaitu pengukuran yang didasarkan pada perspektif pelaku pasar (market participant).
Karakteristik market participant:
Independen dan tidak memiliki hubungan istimewa
Memiliki pengetahuan yang memadai
Bertindak rasional secara ekonomi
Artinya, dalam melakukan valuasi, entitas harus mempertimbangkan bagaimana pasar menilai aset atau liabilitas, bukan hanya berdasarkan strategi internal.
Konsep Highest and Best Use (HBU)
Untuk aset non-keuangan, PSAK 113 memperkenalkan konsep highest and best use (HBU), yaitu penggunaan aset yang menghasilkan nilai tertinggi dari perspektif pasar.
HBU harus memenuhi tiga kriteria:
Secara fisik memungkinkan
Sesuai regulasi
Layak secara ekonomi
Jika ada penggunaan alternatif yang lebih menguntungkan, maka fair value harus mencerminkan potensi tersebut, bukan hanya penggunaan saat ini.
Principal Market vs Most Advantageous Market
Dalam menentukan fair value, entitas harus mengidentifikasi pasar yang relevan:
Principal market: pasar utama dengan aktivitas tertinggi
Most advantageous market: pasar paling menguntungkan jika pasar utama tidak tersedia
Catatan penting:
Biaya transaksi tidak termasuk dalam fair value
Biaya transportasi dapat diperhitungkan
Kesalahan dalam menentukan pasar dapat menyebabkan perbedaan nilai yang signifikan.
Unit of Account vs Unit of Valuation
PSAK 113 membedakan:
Unit of account: ditentukan oleh standar lain
Unit of valuation: metode pengukuran nilai
Ketidaksesuaian antara keduanya dapat menyebabkan salah saji, terutama jika entitas mencoba menggabungkan atau memisahkan aset untuk memengaruhi hasil valuasi.
Ilustrasi Praktik Fair Value PSAK 113
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki tanah yang digunakan sebagai gudang. Namun, dari perspektif pasar, tanah tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi area komersial dengan nilai lebih tinggi.
Dalam hal ini, PSAK 113 mengharuskan penggunaan konsep highest and best use, sehingga fair value mencerminkan potensi penggunaan terbaik, bukan hanya penggunaan saat ini.
Penutup
PSAK 113 menegaskan bahwa fair value bukan sekadar angka, tetapi representasi nilai berbasis pasar yang objektif. Pemahaman yang tepat terhadap konsep seperti exit price, market participant, dan HBU sangat penting untuk menghasilkan laporan keuangan yang andal.
Dengan penerapan yang tepat, entitas dapat meningkatkan transparansi, relevansi, dan kredibilitas laporan keuangan.






Komentar